
Tanah Tumbuh (Humas) - Semarak Ramadan 1447 H terasa hangat di lingkungan MTsN 7 Bungo. Podcast Ramadan perdana digelar secara offline di halaman utama madrasah pada Rabu (25/2/2026), dengan suasana penuh antusias dari para peserta.
Kegiatan ini dipandu oleh Bapak Ahmad Mursalin, S.Pd., yang tampil energik sebagai host. Podcast menghadirkan pemateri inspiratif, Ust. Gianto, yang menyampaikan materi dengan bahasa ringan, komunikatif, dan menyentuh hati. Mengangkat tema "Lemas Saat Puasa? Mengupas Sahur, Niat, Dosa, dan Makna Suci Ramadan", kajian ini mengajak peserta memandang puasa tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga dari dimensi ruhani.
Dalam pemaparannya, Ust. Gianto menjelaskan bahwa rasa lemas saat berpuasa kerap dipicu oleh kebiasaan sahur yang kurang tepat, seperti makan terburu-buru dan berlebihan. Penggunaan wadah makanan tertentu, seperti styrofoam, juga disoroti karena berpotensi memengaruhi kesehatan. Host turut berbagi pengalaman pribadi terkait gangguan asam lambung (GERD) akibat pola sahur yang kurang baik. Selain faktor pola makan, kondisi psikologis seperti pikiran negatif juga disebut dapat berdampak pada kesehatan fisik.
Lebih lanjut, pemateri menegaskan bahwa rasa lemas tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya asupan energi. Niat yang belum lurus dan kurangnya keikhlasan juga dapat memengaruhi semangat ibadah. "Niat yang kuat dan tulus akan menjadi energi ruhani yang menguatkan tubuh dan hati," ungkapnya di hadapan peserta.
Pada sesi berikutnya, diskusi berkembang membahas alasan bulan Ramadan terus bergeser setiap tahun. Dijelaskan bahwa Ramadan mengikuti kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan mengelilingi bumi, berbeda dengan kalender Masehi yang didasarkan pada revolusi bumi terhadap matahari. Perbedaan jumlah hari dalam satu tahun 354 hari pada Hijriah dan 365 hari pada Maseh, menyebabkan Ramadan tidak menetap pada bulan yang sama setiap tahunnya.
Pertanyaan lain yang menarik perhatian adalah mengapa Ramadan disebut bulan suci. Ust. Gianto menerangkan bahwa Ramadan memiliki keistimewaan berupa pelipatgandaan pahala; bahkan amalan sunnah dinilai setara dengan amalan wajib. Namun demikian, dosa pun memiliki konsekuensi lebih berat apabila dilakukan pada bulan penuh kemuliaan ini.
Menanggapi pertanyaan tentang dosa masa lalu, pemateri menegaskan bahwa setiap manusia pasti pernah berbuat salah. Taubat yang sungguh-sungguh, disertai penyesalan dan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan, menjadi kunci pengampunan. Ramadan memang momentum istimewa, tetapi taubat tidak harus menunggu datangnya bulan suci.
Diskusi juga menyentuh fenomena "flexing ibadah" di media sosial. Ust. Gianto menekankan bahwa seluruh amal bergantung pada niat. Jika publikasi ibadah bertujuan memotivasi orang lain dalam kebaikan, maka dapat bernilai pahala. Sebaliknya, jika diniatkan untuk pamer atau riya, justru berpotensi menjadi dosa.
Dalam sesi tanya jawab, Pak Abdul Manap mengajukan pertanyaan mengenai hukum berpuasa tanpa melaksanakan salat. Dijelaskan bahwa puasa dan salat memiliki konteks kewajiban yang berbeda. Puasa Ramadan tetap sah secara fikih meskipun seseorang meninggalkan salat, namun dosa meninggalkan salat tetap tercatat. Dengan demikian, ibadah puasa tidak batal, tetapi nilai kesempurnaannya berkurang karena adanya kewajiban lain yang ditinggalkan.
Kegiatan semakin hidup ketika peserta aktif bertanya dan berbagi pandangan. Suasana interaktif dan komunikatif menjadikan podcast ini tidak sekadar forum ceramah, tetapi juga ruang dialog yang mencerahkan.
Melalui Podcast Ramadan Episode 1 ini, diharapkan seluruh warga madrasah semakin termotivasi untuk memperbaiki niat, menjaga kualitas sahur, serta menjalani ibadah puasa dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum untuk memperkuat hati, membersihkan diri, dan meningkatkan kualitas ketakwaan.
Sumber: Humas MTsN 7 Bungo
Penulis: MR
Dokumentasi: LS/CIW
|
393x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...