
Kemenag (Humas MTsN 7 Bungo) - Jajaran keluarga besar Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 7 Bungo melaksanakan Salat Istisqa secara berjamaah di Lapangan Mini Soccer MTsN 7 Bungo, Kamis (10/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti peserta didik, dewan guru, dan tenaga kependidikan sebagai ikhtiar serta doa bersama memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang penuh keberkahan.
Salat Istisqa dilaksanakan di tengah musim kemarau yang berlangsung cukup panjang dan berdampak terhadap ketersediaan air serta kondisi lingkungan. Momentum tersebut tidak hanya menjadi sarana memohon turunnya hujan, tetapi juga mengajak seluruh warga madrasah untuk melakukan muhasabah, memperbanyak istighfar, bertaubat, bersedekah, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam khutbahnya, Ustaz Gianto mengingatkan bahwa kemarau panjang hendaknya menjadi momentum bagi manusia untuk menyadari keterbatasan diri dan kembali mengingat kebesaran Allah SWT.
"Tanah mulai retak, rumput mulai mengering, sumur mulai menyusut, tumbuh-tumbuhan menunggu air, dan ternak mencari rumput. Namun, pada akhirnya turunnya hujan tetap merupakan kehendak dan kuasa Allah SWT," tuturnya.
Ia mengajak jamaah tidak hanya melihat kondisi langit, tetapi juga melakukan introspeksi terhadap kondisi hati dan perilaku masing-masing.
"Jangan-jangan bukan langit yang terlalu jauh, tetapi kita yang terlalu jauh dari Allah. Jangan-jangan bukan hujan yang tidak mau turun, tetapi hati kita yang terlalu jarang menunduk dan menangis di hadapan Allah," ujarnya.
Menurut Ustaz Gianto, ketika alam mengalami kekeringan, manusia tidak cukup hanya berusaha membasahi tanah dengan air, tetapi juga perlu "membasahi hati" dengan air mata taubat dan penyesalan atas kesalahan yang dilakukan.
Ia juga mengingatkan jamaah agar menjadikan kemarau sebagai momentum untuk mengevaluasi hubungan dengan Allah SWT, memperbaiki ibadah, meninggalkan perbuatan yang dilarang, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
"Air adalah nikmat, udara adalah nikmat, tanah adalah nikmat, hujan adalah nikmat, dan semua nikmat itu berada di tangan Allah," jelasnya.
Dalam khutbah tersebut, Ustaz Gianto turut mengutip QS. Al-Waqi-ah ayat 68-69 sebagai pengingat bahwa manusia tidak memiliki kuasa mutlak atas air dan hujan. Berbagai ikhtiar melalui ilmu pengetahuan dan teknologi tetap memiliki keterbatasan, sedangkan hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah SWT.
Karena itu, ia mengajak seluruh jamaah memperkuat tiga hal, yakni taubat, sedekah, dan doa. Taubat menjadi jalan memperbaiki hubungan dengan Allah, sedekah sebagai wujud kepedulian kepada sesama, dan doa sebagai bentuk penghambaan serta pengakuan atas kelemahan manusia di hadapan Sang Pencipta.
"Mari kita basahi mata dengan air mata penyesalan, mari kita basahi tangan dengan sedekah, dan mari kita basahi hati dengan doa," ajaknya.
Ustaz Gianto berharap Salat Istisqa tidak hanya menjadi permohonan agar hujan segera turun, tetapi juga menjadi doa agar Allah SWT memberikan ampunan, rahmat, keberkahan, dan ketenangan kepada seluruh masyarakat.
"Semoga Allah mengangkat kesulitan kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menurunkan hujan sebagai rahmat, bukan sebagai musibah," pungkasnya.
Pelaksanaan Salat Istisqa di MTsN 7 Bungo menjadi bagian dari pembelajaran spiritual bagi seluruh warga madrasah. Kegiatan tersebut sekaligus menanamkan nilai keagamaan, kepedulian sosial, dan kesadaran menjaga lingkungan kepada peserta didik.
Sumber: Humas MTsN 7 Bungo
Editor: MR
Dokumentasi: MN
|
385x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...